News Update
- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
Rabu,2017-12-27,08:51:03
Foto: Lusiana Mustinda
Jakarta - Pecinta pedas, wajib mencicip sate petir buatan Pak Nano. Dipadu dengan bumbu kecap, irisan cabai rawitnya bikin bibir terasa panas! Berani coba nggak?
Memulai usaha sate sejak tahun 1984, Pak Nano hingga kini tetap konsisten berjualan dan menjaga citarasa satenya tetap enak. Di warung Sate Pak Nano yang ada di kawasan Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini sebenarnya hampir sama dengan sajian sate kambing pada umumnya. Hanya saja, yang membedakan hanyalah tambahan irisan cabai dengan berbagai level.
Ada level PAUD atau TK dengan rasa yang tak pedas hingga level cabai terpedas yaitu level profesor. Jika Anda memesan tanpa cabai, siap-siap akan di lontarkan candaan oleh Pak Nano.
Di warung ini tersedia sate dan juga tongseng. Seporsi sate kambing dan tongseng dibandrol dengan harga (Rp 23.000). Warung sate yang menyatu dengan rumah ini terlihat sederhana. Dibagian depan para pelanggan bisa sekaligus melihat langsung Pak Nano dan istrinya yaitu Bu Marmi meracik tongseng dan juga sate pada sebuah anglo lengkap dengan kompor arangnya.
Seporsi sate kambing berisi 5 tusuk disajikan dengan bumbu kecap. Dengan level yang tergolong sedang, Pak Nano meracik sate kambing pesanan kami dengan 3 buah cabai rawit oranye gendut yang diiris tipis. Potongan daging kambing yang ditusuk dengan lidi bambu dan dibumbui dengan kecap, dibakar di atas arang dengan bantuan besi sebagai alasnya.
Setelah matang, sate kemudian dicampurkan kembali dengan kecap yang diberi sedikit lada, garam dengan tambahan irisan bawang merah, tomat, kubis dan taburan irisan cabai di atasnya. Aromanya sangat sedap, dengan tekstur daging yang empuk dan gurihnya berasal dari campuran sedikit lemak dalam sate tersebut.
Rasanya manis kecap dengan semburat rasa daun jeruk dan sengatan pedas yang berasal dari irisan cabai. Huaaah! Ternyata rasanya lebih pedas dari dugaan kami. Makin enak disantap bersama dengan nasi. Kamipun akhirnya dapat menghabiskan 5 tusuk sate yang pedas ini sampai tandas sambil bercucuran keringat.
Masih belum puas dengan sate? Ada tongseng yang juga jadi sajian wajib saat datang ke sini. Tongseng yang disajikan dengan piring ukuran sedang ini dibuat dengan potongan daging kambing yang dipadu dengan rempah. Pak Nano memasak tongsengnya dengan menggunakan kuah gulai yang ditambah dengan irisan bawang merah, cabai rawit, merica, irisan tomat, kubis dan tambahan kecap.
Kuahnya berwarna cokelat sedikit pekat, namun rasanya sungguh pedas. Pasalnya, ketika menyeruput kuah dan mengunyah dagingnya, irisan biji cabai juga akan ikut terkunyah karena sudah tercampur rata. Huaaah! Ini lebih pedas dibandingkan sate menurut kami.
Kuah tongsengnya agak kental dengan paduan gurih, manis dan pedas. Pokoknya mantap! Oh ya, selain tongseng kambing Anda juga bisa memesan tongseng kepala kambing, kikil, jeroan dan juga otak kambing.
"Rasa sate dan tongsengnya pedas, karena terinspirasi dari pelanggan juga. Dulu banyak yang meminta sate dan tongseng super pedas, jadi dinamakan 'petir'," jelas Pak Nano sambil meracik pesanan pelanggan.
Warung Pak Nano juga pernah dikunjungi beberapa orang terkenal seperti mendiang Bondan Winarno, Butet Kartaredjasa, Mira Lesmana hingga Dedy Corbuzier. "Sudah banyak yang datang ke sini. Bapak saya sudah jualan sejak saya kecil, sekarang anak saya sudah tiga," tutur anak bungsu Pak Nano.
"Sekarang ya jualannya sudah tidak ngoyo seperti dulu. Sekarang anak-anaknya sudah besar jadi porsi yang dijual tak terlalu banyak seperti dulu," jelas anak Pak Nano.
Nah, bagi Anda yang sedang berada di Jogja bisa mampir makan siang untuk mencicip sate dan tongseng pedas ini. Setiap harinya warung ini buka pukul 12 siang hingga sore hari sekitar pukul 5.
Sate Petir Pak Nano
Jl. Jogja Ring Road Sel. No. 90
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul
Yogyakarta
Memulai usaha sate sejak tahun 1984, Pak Nano hingga kini tetap konsisten berjualan dan menjaga citarasa satenya tetap enak. Di warung Sate Pak Nano yang ada di kawasan Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini sebenarnya hampir sama dengan sajian sate kambing pada umumnya. Hanya saja, yang membedakan hanyalah tambahan irisan cabai dengan berbagai level.
Tempat Pak Nano meracik sate dan juga tongseng petirnya. Foto: Lusiana Mustinda
|
Ada level PAUD atau TK dengan rasa yang tak pedas hingga level cabai terpedas yaitu level profesor. Jika Anda memesan tanpa cabai, siap-siap akan di lontarkan candaan oleh Pak Nano.
Di warung ini tersedia sate dan juga tongseng. Seporsi sate kambing dan tongseng dibandrol dengan harga (Rp 23.000). Warung sate yang menyatu dengan rumah ini terlihat sederhana. Dibagian depan para pelanggan bisa sekaligus melihat langsung Pak Nano dan istrinya yaitu Bu Marmi meracik tongseng dan juga sate pada sebuah anglo lengkap dengan kompor arangnya.
Seporsi sate kambing berisi 5 tusuk disajikan dengan bumbu kecap. Dengan level yang tergolong sedang, Pak Nano meracik sate kambing pesanan kami dengan 3 buah cabai rawit oranye gendut yang diiris tipis. Potongan daging kambing yang ditusuk dengan lidi bambu dan dibumbui dengan kecap, dibakar di atas arang dengan bantuan besi sebagai alasnya.
Sate kambing isi 5 tusuk yang enak dipadu dengan taburan irisan cabai rawit. Foto: Lusiana Mustinda
|
Setelah matang, sate kemudian dicampurkan kembali dengan kecap yang diberi sedikit lada, garam dengan tambahan irisan bawang merah, tomat, kubis dan taburan irisan cabai di atasnya. Aromanya sangat sedap, dengan tekstur daging yang empuk dan gurihnya berasal dari campuran sedikit lemak dalam sate tersebut.
Rasanya manis kecap dengan semburat rasa daun jeruk dan sengatan pedas yang berasal dari irisan cabai. Huaaah! Ternyata rasanya lebih pedas dari dugaan kami. Makin enak disantap bersama dengan nasi. Kamipun akhirnya dapat menghabiskan 5 tusuk sate yang pedas ini sampai tandas sambil bercucuran keringat.
Masih belum puas dengan sate? Ada tongseng yang juga jadi sajian wajib saat datang ke sini. Tongseng yang disajikan dengan piring ukuran sedang ini dibuat dengan potongan daging kambing yang dipadu dengan rempah. Pak Nano memasak tongsengnya dengan menggunakan kuah gulai yang ditambah dengan irisan bawang merah, cabai rawit, merica, irisan tomat, kubis dan tambahan kecap.
Tongseng dengan campuran cabai iris yang super pedas. Foto: Lusiana Mustinda
|
Kuahnya berwarna cokelat sedikit pekat, namun rasanya sungguh pedas. Pasalnya, ketika menyeruput kuah dan mengunyah dagingnya, irisan biji cabai juga akan ikut terkunyah karena sudah tercampur rata. Huaaah! Ini lebih pedas dibandingkan sate menurut kami.
Kuah tongsengnya agak kental dengan paduan gurih, manis dan pedas. Pokoknya mantap! Oh ya, selain tongseng kambing Anda juga bisa memesan tongseng kepala kambing, kikil, jeroan dan juga otak kambing.
"Rasa sate dan tongsengnya pedas, karena terinspirasi dari pelanggan juga. Dulu banyak yang meminta sate dan tongseng super pedas, jadi dinamakan 'petir'," jelas Pak Nano sambil meracik pesanan pelanggan.
Warung Pak Nano juga pernah dikunjungi beberapa orang terkenal seperti mendiang Bondan Winarno, Butet Kartaredjasa, Mira Lesmana hingga Dedy Corbuzier. "Sudah banyak yang datang ke sini. Bapak saya sudah jualan sejak saya kecil, sekarang anak saya sudah tiga," tutur anak bungsu Pak Nano.
"Sekarang ya jualannya sudah tidak ngoyo seperti dulu. Sekarang anak-anaknya sudah besar jadi porsi yang dijual tak terlalu banyak seperti dulu," jelas anak Pak Nano.
Nah, bagi Anda yang sedang berada di Jogja bisa mampir makan siang untuk mencicip sate dan tongseng pedas ini. Setiap harinya warung ini buka pukul 12 siang hingga sore hari sekitar pukul 5.
Sate Petir Pak Nano
Jl. Jogja Ring Road Sel. No. 90
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul
Yogyakarta
Berita Terkait
- 1CENIL BIHUN NANAS
- 2Pancong Balap, Kuliner Tradisional Khas Bekasi
- 3Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- 4Ayam Betutu dan Ayam Besisit, Olahan Ayam Asli Pulau Dewata
- 5Lele Goreng Sudah Biasa, Istana Lele Sajikan Lele Bakar Organik
- 6Es Daluman Minuman Khas Bali yang Bikin Segar