- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Buah Padi
Buah padi biasa, sekarang dengan mudah kita jumpai apalagi untuk melihat dan mendapatkannya. Tetapi buah padi yang diameter 29 cm, dan panjangnya kurang lebih 16 cm, hanya ada di kota Sekadau ini.Karena bentuknya unik dan menarik, sangat perlu untuk disimak dan dikaji. Buah padi ini sudah tidak berisi lagi jadi tinggal kulitnya saja. Menurut sebagian masyarakat jalan Tamtama Desa Sungai Ringin, keberadaan padi tersebut usianya memang sudah cukup tua. Dikisahkan oleh masyarakat setempat, di zaman orang besar/Inik Kamonink (lebar dadanya tujuh asta), kurang lebih ratusan tahun yang lalu. Padi merupakan makanan pokok seperti layaknya kita sekarang. Karena usianya sudah cukup lama, maka ada yang meyakini (ditahyuli) setiap ada musim tanam padi, kulit padi tersebut dikikis dan ditaburkan pada lahan (huma) yang akan ditanami padi, dengan harapan usahanya akan terhindar dari hama dan mendapat berkah dan safa’at, karena zaman sudah maju sekarang sudah tidak dilakukan lagi.Sebenarnya padi ini utuh, karena banyak keluarga yang turun temurun (pusaka), padi tersebut dibagi dua. Separuh ada di Sekadau, yang separuhnya lagi ada tersimpan pada kerabat turunannya di Landau Kodah seberang kapuas.
Sumber : Budpar Kab. Sekadau

Provinsi
